Blog EntryKu Ingin Anak Lelakiku MenirumuJul 11, '08 3:09 AM
for everyone
Oleh : Neno Warisman - 'Izinkan Aku Bertutur'

      Ketika  lahir, anak lelakiku gelap benar kulitnya,
    Lalu kubilang pada ayahnya: "Subhanallah, dia benar-benar mirip denganmu ya!"
     Suamiku menjawab: "Bukankah sesuai keinginanmu? Kau yang bilang kalau anak lelaki ingin seperti aku."
    Aku mengangguk. Suamiku kembali bekerja seperti biasa.

    Ketika bayi kecilku berulang tahun pertama, aku mengusulkan perayaannya dengan mengkhatamkan  Al-Quran di rumah, Lalu kubilang pada suamiku: "Supaya ia menjadi penghafal Kitabullah ya,Yah."

        Suamiku menatap padaku seraya pelan berkata: "Oh ya. Ide bagus itu."

        Bayi  kami  itu,  kami beri nama Ahmad, mengikuti panggilan Rasulnya. Tidak  berapa  lama,  ia sudah pandai memanggil-manggil kami berdua: Ammaa. Apppaa. Lalu ia menunjuk pada dirinya seraya berkata: Ammat! Maksudnya ia Ahmad. Kami berdua sangat bahagia dengan kehadirannya.

        Ahmad  tumbuh  jadi  anak  cerdas,  persis seperti papanya.
        Pelajaran matematika  sederhana  sangat  mudah  dikuasainya. 
        Ah, papanya memang jago matematika.  Ia  kebanggaan  keluarganya. 
        Sekarang pun sedang S3 di bidang Matematika.

        Ketika  Ahmad ulang tahun kelima, kami mengundang keluarga. Berdandan rapi  kami semua. Tibalah  saat Ahmad menjadi bosan dan agak mengesalkan. Tiba-tiba ia minta  naik  ke punggung papanya. Entah apa yang menyebabkan papanya begitu  berang, mungkin  menganggap  Ahmad  sudah  sekolah, sudah terlalu  besar  untuk  main kuda-kudaan,  atau lantaran banyak tamu dan ia kelelahan.

    Badan  Ahmad  terhempas  ditolak  papanya,  wajahnya merah, tangisnya pecah, Muhammad  terluka hatinya di hari ulang tahunnya kelima. Sejak hari itu,  Ahmad  jadi pendiam. Murung ke sekolah, menyendiri di rumah. Ia tak lagi suka bertanya, dan ia menjadi amat mudah marah.

       Aku  coba  mendekati  suamiku, dan menyampaikan alasanku. Ia sedang menyelesaikan papernya dan tak mau diganggu oleh urusan seremeh itu, katanya.

       Tahun  demi  tahun berlalu. Tak terasa Ahmad telah selesai S1. Pemuda gagah, pandai  dan  pendiam telah membawakan aku seorang mantu dan seorang cucu. Ketika lahir, cucuku itu, istrinya berseru sambil tertawa-tawa lucu: "Subhanallah! Kulitnya gelap, Mas, persis seperti kulitmu!"

       Ahmad  menoleh  dengan  kaku,  tampak ia tersinggung dan merasa malu. "Salahmu. Kamu yang ingin sendiri, kan. Kalau lelaki ingin seperti aku!". Di  tanganku,  terajut  ruang  dan  waktu.  Terasa  ada yang pedih di hatiku. Ada yang mencemaskan aku. Cucuku pulang ke rumah, bulan berlalu.

        Kami,   nenek  dan  kakeknya,  datang  bertamu.  Ahmad  kecil  sedang digendong  ayahnya.  Menangis  ia.  Tiba-tiba Ahmad anakku menyergah sambil berteriak menghentak, "Ah, gimana sih, kok nggak dikasih pampers anak ini!" Dengan kasar disorongkannya bayi mungil itu.

        Suamiku membaca korannya, tak tergerak oleh suasana. Ahmad, papa bayi ini, segera membersihkan dirinya di kamar mandi.

         Aku,  wanita  tua,  ruang  dan waktu kurajut dalam pedih duka seorang istri dan seorang  ibu.  Aku  tak  sanggup  lagi  menahan  gelora  di dada ini.Pecahlah tangisku serasa sudah berabad aku menyimpannya.
    
      Aku  rebut  koran  di tangan suamiku dan kukatakan padanya: "Dulu kau hempaskan Ahmad di lantai itu! Ulang tahun ke lima, kau ingat? Kau tolak ia merangkak  di punggungmu! Dan ketika aku minta kau perbaiki, kau bilang kau sibuk  sekali. Kau dengar? Kau dengar anakmu tadi? Dia tidak suka dipipisi. Dia asing dengan anaknya sendiri!"

              Allahumma Shali ala Muhammad. Allahumma Shalli alaihi wassalaam.

   Aku  ingin  anakku menirumu, wahai Nabi. Engkau membopong cucu-cucumu di  punggungmu,  engkau  bermain  berkejaran  dengan  mereka  Engkau bahkan menengok seorang anak yang burung peliharaannya mati. Dan engkau pula yang berkata ketika seorang ibu merenggut bayinya dari gendonganmu, "Bekas najis ini bisa kuseka, tetapi apakah kau bisa menggantikan saraf halus yang putus di kepalanya?"

        Aku  memandang  suamiku yang terpaku. Aku memandang anakku yang tegak diam bagai karang tajam. Kupandangi keduanya, berlinangan air mata. Aku tak boleh berputus asa dari Rahmat-Mu, ya Allah, bukankah begitu?

        Lalu  kuambil  tangan  suamiku,  meski   kaku,  kubimbing ia mendekat kepada Ahmad. Kubawa tangannya menyisir kepala anaknya, yang berpuluh tahun tak merasakan sentuhan tangan seorang ayah yang didamba.

          Dada  Ahmad  berguncang menerima belaian. Kukatakan di hadapan mereka berdua,  "Lakukanlah  ini,  permintaan seorang yang akan dijemput ajal yang tak  mampu mewariskan apa-apa: kecuali Cinta. Lakukanlah, demi setiap anak lelaki yang akan lahir dan menurunkan keturunan demi keturunan. Lakukanlah, untuk sebuah perubahan besar di rumah tangga kita! Juga di permukaan dunia.

Tak  akan  pernah  ada  perdamaian selama anak laki-laki tak diajarkan rasa kasih  dan sayang,  ucapan  kemesraan,  sentuhan  dan belaian, bukan hanya pelajaran  untuk menjadi jantan seperti yang kalian pahami. Kegagahan tanpa perasaan.

        Dua  laki-laki  dewasa  mengambang  air di mata mereka. Dua laki-laki dewasa dan seorang wanita tua terpaku di tempatnya. Memang tak mudah untuk berubah.  Tapi  harus dimulai. Aku serahkan bayi Ahmad ke pelukan suamiku. Aku bilang: "Tak ada kata terlambat untuk mulai, Sayang."


        Dua  laki-laki  dewasa itu kini belajar kembali. Menggendong bersama, bergantian  menggantikan  popoknya,  pura-pura merancang hari depan si bayi. Kini  tawa  mereka memenuhi  rongga  dadaku yang sesak oleh bahagia, syukur pada-Mu Ya Allah! Engkaulah penolong satu-satunya ketika semua jalan tampak buntu. Engkaulah cahaya di ujung keputusasaanku.

        Tiga laki-laki dalam hidupku aku titipkan mereka di tangan-Mu. Kelak, jika  aku boleh  bertemu dengannya, Nabiku, aku ingin sekali berkata:  Ya, Nabi.  aku  telah  mencoba  sepenuh daya tenaga untuk mengajak mereka semua menirumu!

              Amin, alhamdulillah

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dapat tulisan ini dari milis. Maaf cuma bisa copas tulisan orang, soalnya bagus banget  tulisannya... :) Semoga bermanfaat dan dapat dijadikan bekal atau pengingat saat khilaf.. Aamin

exadjmib wrote on Jul 11
Keren.... bisa menjadi sebuah cerita dan sebuah pelajaran yang berarti bagi para calon-calon ayah....
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help